Eloknya Selokan Mataram di Yogyakarta
Lokasi: Kabupaten Magelang - Kabupaten Sleman
"Menelusuri Jalur Kemanusiaan untuk Kesejahteraan "
Dengarlah ini untaian kata dari Yogyakarta, negeri paling nyaman seperti surga, tidak peduli dunia sudah jadi neraka, di sini kami selalu nyaman dan merdeka. Tanah lahirkan tahta, tahta untuk rakyat, dimana rajanya bercermin di kalbu rakyat. Demikianlah singgasana bermartabat, berdiri kokoh untuk mengayomi rakyat.
BEBERAPA HARI INI lagu tersebut mengisi di sudut telinga saya serta memberikan inspirasi bagaimana saya harus memulai belajar berjalan dan berbagi cerita tentang sejarah pembangunan Selokan Mataram dan menelusurinya dari titik nol kilometer. Saya sudah banyak membaca tentang sejarah dan napak tilas Selokan Mataram dari berbagai media baik cetak ataupun online. Dari sekian banyak artikel tersebut, ada tinta emas yang menyatukan berbagai hal dari Selokan Mataram, yaitu sebagai jalur kemanusiaan untuk kesejahteraan yang menimbulkan kekaguman, keheranan dan rasa penasaran membuka tabir masa lalunya.
Di tengah maraknya perekrutan romusha, Sri Sultan Hamengku Buwono IX berusaha menyelamatkan warga Yogyakarta dari kekejaman pemerintah Jepang. Dengan berpikir cerdik, Beliau melaporkan kepada Jepang bahwa Yogyakarta adalah daerah minus dan kering, hasil buminya hanya berupa singkong dan gaplek. Sri Sultan Hamengkubuwono IX dengan pengaruhnya yang besar terhadap pemerintahan Jepang, mengusulkan agar romusha dari wilayah Yogyakarta dapat mengerjakan proyek-proyek di wilayah Yogyakarta sendiri. Selain itu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengusulkan proyek pembangunan saluran irigasi yang menghubungkan Sungai Progo dan Sungai Opak, dengan demikian lahan pertanian di Yogyakarta yang kebanyakan lahan tadah hujan menjadi lahan sepanjang tahun sehingga mampu menghasilkan padi dan bisa memasok kebutuhan pangan Tentara Jepang. Saran dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX disetujui pemerintah Jepang maka terbebaslah warga Yogyakarta menjadi tenaga romusha pemerintah Jepang. Dibawah kendali Beliau mega proyek ini berhasil menyatukan Sungai Progo di sisi barat Yogyakarta dengan Sungai Opak di sisi timur dan dan akhirnya masyarakat Yogyakarta sendirilah yang diuntungkan dengan proyek ini. Selokan Mataram dibangun tahun 1944, sepanjang 31,2 km dan mengairi areal pertanian seluas 15.734 ha.
Pembangunan bendungan tersebut dimulai pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, awal abad ke-20 tepatnya tahun 1909. Pada saat itu di wilayah Yogyakarta banyak berdiri pabrik gula, sekitar 17 pabrik, dengan demikian dibangunlah sarana-sarana pengairan untuk menopang kelangsungan industri gula di kota Yogyakarta. Bendungan Karangtalun memiliki tinggi kurang lebih 20 meter, sisi kanan kirinya dibangun tangga berundak yang difungsikan sebagai fasilitas jalan untuk memeriksa pintu air bendungan tersebut. Bendungan ini juga dilengkapi dengan empat pintu air–gejlig dalam bahasa jawa–berwarna biru yang berfungsi untuk memecah arus dari Sungai Progo. Setiap pintu air memiliki bantaran yang memanjang kurang lebih 10 meter dengan menyesuaikan hulu Kanal Mataram yang membelok kurang lebih 35 derajat. Bendungan Karangtalun ini mengairi 30.000 hektar lahan pertanian di Kab. Magelang dan Daerah Istimewa Yogyakarta, selain itu Bendungan Karangtalun merupakan bagian dari bangunan bersejarah non gedung yang seharusnya dilindungi oleh pemerintah terkait.
Pedal terus dikayuh seiring mengalirnya air Selokan Mataram, kami berhenti pada pintu air besi berwarna biru. Arus airnya sangat deras, sebelum masuk terowongan terdapat semacam penghalang untuk menahan sampah agar tidak ikut masuk. Di tempat ini saya dibuat kagum, arus air Selokan Mataram mengalir di terowongan bawah tanah Sungai Krasak yang kering kerontang dan akhirnya muncul diseberang sungai Krasak. Akhirnya kami mengikuti jalan aspal yang memutar melewati jembatan di atas Sungai Krasak, di ujung jembatan tersebut terdapat baliho yang menerangkan batas wilayah antara Propinsi DIY dan Jawa Tengah. Kurang dari lima belas menit kami berhenti di pintu air Selokan Mataram yang berada di wilayah Propinsi DIY. Terowongan bawah tanah ini tidak menggunakan teknologi mesin sama sekali melainkan menggunakan hukum fisika, bahwa permukaan air akan selalu rata digunakan disini.
Tepat setengah jam kemudian, kami memasuki wilayah kecamatan Mlati, di sini area persawahan mulai berbagi dengan area rumah penduduk. Di daerah sini kami juga menemukan monumen baru yang menceritakan kisah pembangunan Selokan Mataram dalam tiga bahasa: Jawa, Indonesia dan Inggris. Monumen berbentuk segitiga tepat di pertigaan jalan masuk kampung.Kurang lebih 500 meter kami mencapai garis finish untuk etape pertama Jalan Magelang. (foto dan teks aanardian/www.kotajogja.com)
Sumber Tulisan:
Jogja Istimewa: Ditulis & Aransemen oleh: Kill The DJ & Balance.
Rapper Crew: Ki Jarot (Kill the DJ–Jahanam-Rotra).Produksi: Jogja Hip Hop Foundation)
Jogja Istimewa: Ditulis & Aransemen oleh: Kill The DJ & Balance.
Rapper Crew: Ki Jarot (Kill the DJ–Jahanam-Rotra).Produksi: Jogja Hip Hop Foundation)
Tuesday, March 11, 2014
|
Labels:
info Jogja
|
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment