Pak Yanto - Kisah Sukses Perjalanan Warung Sate Pak Yanto
Tokoh Jogja - Enterpreneur Jogja
Setiap orang diberikan waktu yang sama (24 jam, 1440 menit, dan 86.400 detik) untuk meraih mimpi dan mewujudkannya.
Ketekunan, kesabaran dan berani mengambil keputusan menjadi pembeda setiap orang dalam meraihnya baik hasil maupun kecepatan waktunya. Setelah meraih keberhasilan, konsistensi untuk mempertahankan pun juga menjadi salah satu faktor sukses memperpanjang raihan keberhasilan tersebut. Keberanian pun juga menjadi salah satu pintu untuk memasuki ruang keberhasilan yang setiap orang berhak mendapatkannya.Minggu, 05 Mei 2013, saya berkesempatan untuk berbincang sejenak dengan salah satu pribadi yang sama dengan tulisan diatas. Beliau adalah pemilik Warung Sate Pak Yanto yang sudah berhasil mempertahankan eksistensinya selama 23 tahun, tidak lain tidak bukan beliau adalah Pak Yanto.
Dengan baju warna hitam serta berpeci hitam, pria murah senyum ini mempersilahkan saya untuk duduk santai di sela-sela keramaian warungnya. “Sebelum membuka warung sate ini, saya sempat ikut orang selama 19 tahun. Usaha yang saya ikuti yaitu bidang perhiasan yaitu emas. Dalam kurun waktu tersebut saya menjadi supir yang setiap hari bolak balik Jogja Wonosari untuk mengantar perhiasan emas yang akan dijual,” ungkap pria berzodiak Libra.
Dengan penuh canda dan uraian senyum, Pak Yanto juga menceritakan perjalanannya selama 19 tahun ikut orang. Beliau menceritakan perjalanannya selama 19 tahun bekerja ikut orang. “Saya tinggal bekerja serta mengikuti kemauan pimpinan saya. Di awal-awal pekerjaan saya merasa asyik aja tidak perlu banyak berpikir, tetapi setelah anak-anak saya tumbuh dewasa memasuki usia sekolah saya berpikir ulang dengan keputusan saya tersebut,” kata pria berbadan subur ini.
Kebutuhan hidup yang bertambah dengan tidak dibarengi pendapatan yang signigfikan, pria berkacamata minus ini akhirnya memutuskan untuk berwirausaha setelah lebih 19 tahun bekerja di perusahaan milik orang lain. Pertama kalinya Pak Yanto membuka usaha sop kambing, dan merasakan betapa beratnya membuka usaha sendiri. Halangan dan rintangan terus menemaninya hingga mengalami bangkrut. “Waktu itu saya merasa menyesali keputusan saya untuk berwirausaha, untung saja istri dan anak-anak saya mendukung secara penuh agar saya terus berusaha dan tidak beputus asa.”
Dukungan dan doa dari keluarga menguatkan saya untuk terus melangkah di bidang usaha kuliner ini. Fase kedua saya jalani dengan penuh persiapan dan alhamdulillah mental saya pun siap untuk melanjutkannya.
Dengan mantab usaha kuliner saya jalani dengan menu aneka macam sate dan tongseng sebagai menu utamanya. Tahun 1990 menjadi tonggak awal saya untuk bangkit dari keterpurukan. Dengan tepat beliau memilih halaman Pasar Lempunyang menjadi tempat beliau membuka lapak warung satenya.
Proses perjalanan yang penuh dengan halang rintang tidak membuat pria kelahiran Sleman ini patah arang, malah menjadikannya semakin kreatif dan setiap kegagalan bagi dia adalah salah satu cara menggapai keberhasilannya. “Alhamdulillah keputusan saya membuahkan hasil dan bisa dibilang sukses buat saya dan keluarga,” ungkap pria berkacamata minus.
Sumber : http://kotajogja.com/tokoh/index/72
(konten: ardian/060513/kotajogja.com)
Tuesday, February 25, 2014
|
Labels:
Artikel,
Enterpreneur
|
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment